Pertumbuhan Ekonomi Jokowi Stagnan, Jauh dari Janji Manis 7%



Gema Rakyat - Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2018. Hasilnya, ekonomi 'hanya' tumbuh 5,17% di 2018.

Selama era Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjabat rata-rata pertumbuhan ekonomi hanya 5,04% per tahun.

Berikut data pertumbuhan ekonomi era Presiden Joko Widodo :

- 2015 : 4,88%
- 2016 : 5,03%
- 2017 : 5,07%
- 2018 : 5,17%

Di awal janjinya, Jokowi dan JK kala itu menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 7%. Sayangnya, realita tak mampu menggapai angan dan cita-cita.

Selama pemerintahan Jokowi-JK pertumbuhan ekonomi tak mampu berada di atas 5,2%. Paling tinggi, ekonomi era Presiden Jokowi hanya mampu mencapai level tertingginya di 2018 yang mana mencapai 5,17%.

Pada 2018 sendiri, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal IV mencapai 5,18%. Di antaranya ditopang oleh :

- Konsumsi Rumah Tangga : 5,08%
- Konsumsi LNPRT : 10,79%
- PMTB (Investasi) 6,01%
- Ekspor : 4,33%
- Impor : 7,10%

Berikut abstraksi pertumbuhan ekonomi 2018:


Perekonomian Indonesia tahun 2018 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 14.837,4 triliun dan PDB Perkapita mencapai Rp 56,0 Juta atau US$ 3.927,0.

Ekonomi Indonesia tahun 2018 tumbuh 5,17% lebih tinggi dibanding capaian tahun 2017 sebesar 5,07%. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 8,99%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 9,08%.

Ekonomi Indonesia triwulan IV-2018 dibanding triwulan IV-2017 tumbuh 5,18% (y-on-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 9,08%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didorong oleh semua komponen, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen PK-LNPRT sebesar 10,79%.

Ekonomi Indonesia triwulan IV-2018 dibanding triwulan III-2018 mengalami kontraksi sebesar 1,69% (q-to-q). Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh efek musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mengalami penurunan 21,41%. Dari sisi pengeluaran, disebabkan oleh komponen Ekspor Barang dan Jasa yang mengalami kontraksi 2,22%.

Struktur ekonomi Indonesia secara spasial tahun 2018 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,48%, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,58%, dan Pulau Kalimantan 8,20%.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan target 7% memang berat dicapai. Pasalnya ada normalisasi bunga dari Bank Sentral AS hingga Perang Dagang.

"RPJMN [Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional] itu kan disusun 5 tahun ke depan. Tahun 2014 target 7%, kita tidak pernah berfikir The Fed naikkan bunga cukup sering, perang dagang, dan sebagainya."

"Target 7% berat sekali. Tapi memperhatikan ekonomi global, komoditas fluktuatif, saya bilang 5,17% bagus. Kita tidak the best tapi masih okelah," tegas Suhariyanto.[cnbc]

Comments

Popular posts from this blog

Diduga Sebar Fitnah Saat Debat, Jokowi Resmi Dilaporkan ke Bawaslu

Teriakan 'Prabowo... Prabowo' Menggema di Stadion Si Jalak Harupat

Penilaian Rocky Gerung Terhadap Penampilan Jokowi dan Prabowo di Debat Capres